image Usia paling Tepat Memperkenalkan Low Fat Foods pada Anak-Anak

Makanan berlemak terutama “lemak jahat” memang memiliki dampak negative bagi kesehatan terutama jika dikonsumsi secara berlebihan. Namun tidak berarti “lemak jahat” tersebut berperan jahat bagi anak usia dini. Anak balita membutuhkan beragam zat gizi bagi pertumbuhan dan perkembangannya yang sangat cepat, termasuk “lemak jahat”.

Lemak jahat sebenarnya adalah saturated fat dan trans fat. Kedua jenis lemak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL yang menyebabkan pembentukan plak pada pembuluh darah (menyebabkan terjadinya penyakit jantung atau stroke). Oleh karena itulah asupan makanan yang banyak mengandung lemak jahat harus dibatasi.

Permasalahannya, pada usia berapakah anak-anak seharusnya mengurangi asupan lemak jahat?

Anak-anak terutama batita (bayi dibawah 3 tahun) membutuhkan semua jenis lemak untuk perkembangan otaknya dan pertumbuhannya. Lemak juga digunakan sebagai sumber energy. Anak kecil terutama mereka yang sangat aktif tentunya membutuhkan sumber energy yang lebih banyak. Selain itu, lemak akan membantu penyerapan vitamin A, D, E, K yang sangat penting bagi perkembangan organ-organ tubuhnya. Anak-anak membutuhkan saturated fats dan kolesterol untuk menjaga membran sel-sel nya tetap sehat. Kolesterol dan saturated fats dari asi, telur dan daging-dagingan adalah sumber lemak yang penting untuk anak batita.

Oleh karena itulah, bayi hingga sekitar usia 2 tahunan dianjurkan untuk tidak mengonsumsi makanan rendah lemak, seperti misalnya memilih susu low fat. Mereka dianjurkan untuk mengonsumsi beragam jenis makanan tinggi protein, tinggi lemak dan kaya akan serta, vitamin serta mineral. Pemberian makanan tersebut tentunya sesuai tinggi, badan berat, serta aktivitasnya. Asupan lemak sekitar 30% dari total energi harian, dengan jenis lemak utama yang sangat dianjurkan yaitu asupan lemak baik (polyunsaturated fats).

Makanan rendah lemak perlu diperkenalkan secara bertahap. Pada usia tiga tahun, anak sudah bisa di perkenalkan low fat dairy product seperi susu atau yogurt rendah rendah lemak. Pengenalan bertahap ini selain mengajari anak untuk tidak terbiasa makan makanan tinggi lemak, mereka juga tidak akan kehilangan asupan lemak secara drastis.

Ada baiknya orang tua tidak memberikan anak fast foods terlalu sering bahkan jangan dahulu diperkenalkan. Selain karena makanan tersebut tergolong tinggi lemak, tinggi garam dan rendah zat gizi penting lainnya, anak akan terbiasa dan suka. Pada akhirnya anak hanya ingin mengonsumsi fast food dan tidak ingin makan makanan kaya serat, vitamin serta mineral.

 

Responsible author: Nadia Farhani, M.Sc

Advertisements