image Pecinta Makanan Pedas dapat Hidup Lebih Lama!

Kabar gembira bagi mereka yang menyukai makanan pedas. Pasalnya, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa masyarakat yang mengonsumsi hot red chilli pepper memiliki resiko kematian lebih rendah dibanding mereka yang tidak menyukai makanan pedas.

Penelitian ini melibatkan 16.179 orang berusia minimal 18 tahun yang berlangsung selama 18.9 tahun. Untuk mengetahui konsumsi hot red chilli pepper, peneliti menggunakan food frequescy questionnaire. Selama follow-up, tercatat 4.946 kasus kematian.

Angka kematian tersebut terbilang kecil untuk menyimpulkan sebuah penelitian namun data yang ada menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara konsumsi hot red chilli pepper dengan penurunan kematian karena penyakit jantung dan stroke. Sayangnya, mekanisme mengapa hot red chilli pepper dapat memperpanjang usia hidup belum dapat dijelaskan secara pasti.

Teori yang paling mendukung akan hal ini adalah karena kehadiran capsaisin pada jenis cabe-cabean. Capsaicin merupakan senyawa aktif yang terdapat dalam cabe-cabean dan memberikan sensasi pedas saat memakannya.

capsaicin

Capsaisin dapat mengaktifkan Transient Receptor Potential (TRP) channels. Aktivasi TRP vanilloid type 1 dapat menstimulasi mekanisme selular melawan obesitas dengan cara mengubah mediator katabolisme lemak dan proses termogenesis. Mekanisme ini pada akhirnya dapat menurunkan resiko penyakit jantung, metabolik sindrom dan penyakit paru-paru.

Selain adanya capsaicin, cabe-cabean juga mengandung banyak vitamin seperti vitamin B, vitamin C dan pro-vitamin A yang tentunya bermanfaat baik bagi kesehatan.

Terlepas dari keterbatasan sebuah penelitian, konsumsi makanan pedas memang memiliki efek positif daan negatif tergantung kapabilitas individu dan masalah kesehatannya. Karena pada intinya, cabe-cabean itu baik asal jangan berlebihan!

 

Referensi:

Chopan, M. and Littenberg, B., 2017. The Association of Hot Red Chili Pepper Consumption and Mortality: A Large Population-Based Cohort Study. PloS one, 12(1), p.e0169876.

Advertisements