image Makanan Tinggi Serat Menolong Bakteri Melawan Food Alergy

Food allergy atau alergi makanan merupakan reaksi hipersensitifitas yang sangat cepat pada individu yang peka dan melibatkan IgE (Imunoglobulin E) dan sel mast setelah terekspose bahan penyebab alergi.

Sumber makanan yang paling umum menyebabkan alergi diantaranya susu sapi, telur, udang, ikan, kacang-kacangan, dan gandum. Reaksi alergi terhadap makanan dapat berbeda pada tiap orang namun biasanya mengalami reaksi seperti sakit perut, sakit kepala, pilek, kulit memerah, bibir membengkak, asma, diare, hingga anaphylaxis (kematian). Cara terbaik untuk menghindari reaksi alergi tentunya dengan menghindari makanan penyebab alergi.

Penyebab Alergi

Penyebab seseorang alergi terhadap makanan tidak dapat dijelaskan secara pasti, namun dihipotesiskan karena terjadi pengubahan komposisi mikroflora usus. Hipotesis ini berdasarkan penelitian in vivo dimana tikus yang tidak mengandung bakteri cenderung mengalami reaksi alergi yang lebih parah. Selain itu, ada penelitian yang membuktikan bahwa pemberian makanan yang mengandung bakteri probiotik dapat mengurangi gejala alergi.

Makanan sumber serat menjadi faktor penting bagi ekologi, keragaman dan fungsi bakteri usus. Bakteri usus mendukung integritas sel-sel epithelial dan sel regulator T, dimana keduanya berperan penting dalam homeostatis mukosa. Asupan serat akan difermentasi di kolon oleh bakteri usus menjadi asam lemak rantai pendek, khususnya asetat, butirat dan propionat. Asam lemak rantai pendek akan mengikat GPCRs (metabolite-sensing G-protein coupled receptor). GPCRs inilah yang akan berperan sebagai imunitas sel. Asetat dan asam lemak rantai pendek lainnya dapat membantu integritas usus. Oleh karena itu, asupan junk food yang cenderung tinggi lemak dan rendah serat dapat mengubah ekologi bakteri usus, integritas epitelial usus dan perkembangan sel regulator T sehingga dapat menyebabkan terjadinya alergi makanan.

Pada penelitian ini, asupan makanan tinggi serat bersama dengan vitamin A dan bakteri baik di usus dapat menjaga lingkungan mukosa dan melindungi terhadap resiko alergi makanan. Ini disebabkan karena serat dan turunanya dapat meningkatkan fungsi tolerogenic CD103+ DC (regulator toleransi imunitas di mukosa usus).

Kesimpulannya, asupan makanan tinggi serat bersamaan dengan peran bakteri baik di usus dapat mencegah atau bahkan menurunkan terjadinya reaksi alergi pada tubuh manusia.

Reference

Morgan, M. 2015. Personalised Nutrition: Food Allergy and Intolerance. University of Leeds.

Tan, J., McKenzie, C., Vuillermin, P.J., Goverse, G., Vinuesa, C.G., Mebius, R.E., Macia, L. and Mackay, C.R., 2016. Dietary Fiber and Bacterial SCFA Enhance Oral Tolerance and Protect against Food Allergy through Diverse Cellular Pathways.Cell Reports, 15(12), pp.2809-2824.

Advertisements