image Kontroversi Mie Instant: Mitos dan Fakta

Persepsi masyarakat tentang mie instant yang tidak sehat namun sangat enak sudah tidak asing lagi kita dengar. Banyak informasi yang beredar bahwa mie instant mengandung lilin, penyedap rasa, zat pengawet, pewarna dan sebagainya sehingga menjadikannya tidak sehat. Bagaimana kebenaran akan hal ini? Berikut ini ulasan beberapa mitos dan fakta terkait mie instant:

  1. Air Rebusan Mie Instan Mengandung Lilin

Mie instant di-isu-kan mengandung lilin agar mie tidak lengket ketika dimasak. Kandungan lilin dapat dilihat dari keruhnya mie saat direbus. Beruntungnya, keberadaan lilin ini hanyalah mitos. Warna keruh mie ketika direbus bukanlah berasan dari zat lilin, melainkan karena adanya tepung terigu, minyak nabati dan pewarna (yang umum digunakan adalah tartrazin cl 19140). Tartrazin adalah pewarna kuning lemon sintetis yang umum digunakan sebagai pewarna makanan. Oleh karena itulah air rebusan mie cenderung keruh kekuningan.

air-rebusan-mie

2. Garam dan Penyedap Rasa

Adanya garam dan penyedap rasa pada mie instant tentu bukalah mitos. Mie instant dinilai tidak sehat salah satunya karena mengandung garam yang tinggi dalam 1 porsinya. Berdasarkan informasi nilai gizi yang tertera pada kemasannya, mie instan mengandung sekitar 1000 mg natrium. Kadar garam ini merepresentasikan 30-45% kebutuhan garam perhari. Artinya, konsentrasi ini sangat besar karena hanya dalam 1 porsi mie kebutuhan garam kita sudah mencapai setengahnya. Padahal, anjuran asupan garam tidak boleh lebih dari 2300 mg atau hanya 1 sendok teh per hari.

Selain garam, bahan penyedap yang umum digunakan adalah monosodium glutamat atau MSG. Namun sayangnya trik marketing mencantumkan istilah mononatrium glutamat yang sebenarnya adalah sama (natrium adalah nama lain untuk sodium). Dinatrium inosinat dan guanilat juga ditambahkan agar kombinasi rasa gurih menjadi sempurna.

Penggunaan bahan penyedap sering diissue kan dapat merusak otak dan menyebabkan kebodohan. Sejauh ini belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan hipotesis tersebut. Penambahan bahan penyedap pada mie instan tentunya telah diawasi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Meskipun belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk membuktikan pengaruh buruk penyedap rasa, konsumsinya harus tetap dibatasi karena menimbulkan after taste yang kurang enak. Oleh karena itulah, setelah mengonsumsi garam dan penyedap rasa dianjurkan untuk banyak mengonsumsi air mineral dan buah-buahan untuk menyeimbangkannya.

3. Bahan Pengawet

Umumnya mie instan produksi industri skala besar tidak menggunakan bahan pengawet. Karena proses pengeringan, mie akan menjadi awet hingga beberapa bulan bahkan satu tahun. Yang perlu diwaspadai adalah mie yang tidak mencantumkan komposisi bahan pangan seperti industri rumah tangga yang belum tentu keamanannya terkontrol oleh BPOM.

Mie instan memang aman dikonsumsi, namun tetaplah dinilai kurang sehat karena dalam 1 porsi kandungan gizinya tidak lengkap. Mie umumnya mengandung 20-30% lemak, 15% protein dan 15% karbohidrat dari angka kecukupan gizi. Mie juga mengandung 350-400 kkal dan banyak masyarakat yang mengonsumsi mie dengan nasi. Jika dijumlahkan sekali makan mie + nasi bisa menyumbangkan 500-600 kkal. Jadi, bijaklah makan mie. Lengkapi gizinya dengan tambahan sayur mayur serta protein dan batasi frekuensinya.

*Responsible writer: Nadia Farhani, M.Sc 

Advertisements