image Metode Psikologis agar Anak Mau Makan Sayur dan Buah

Konsumsi sayur dan buah sangatlah penting bagi pertumbuhan anak karena banyak mengandung vitamin dan mineral. Sayangnya, anak-anak lebih menyukai jajanan manis atau makanan ringan yang mengandung bahan tambahan pangan. Orang tua pun seringkali menyerah karena anak tidak mau makan sayur dan buah.

Jurnal yang direview oleh Wadhera et al, Department of Psychology, Arizona State University, mengungkapkan bahwa ada beberapa cara agar anak mau mengonsumsi buah dan sayur, dimulai dari metode dini sebelum anak lahir.

  1. Prenatal Exposure

Pola konsumsi ibu ternyata memengaruhi tingkat kesukaan anak dimasa mendatang. Sebuah eksperimen dilakukan terhadap 46 ibu hamil, 24 diantaranya diberi asupan jus wortel saat hamil dan 24 lainnya diberikan jus wortel saat menyusui, kemudian dibandingkan dengan kontrol (wanita yang hanya diberi air minum saat hamil maupun menyusui).

Kemudian setelah lahir bayi tersebut diteliti ekspresi wajahnya ketika diberi makan sereal rasa wortel. Hasil menunjukkan bahwa bayi dalam kandungan yang telah terbiasa menyerap rasa dan nutrisi jus wortel memberikan ekspresi negatif lebih sedikit dibanding bayi yang ibunya tidak mengonsumsi jus wortel. Artinya, bayi tersebut sudah mengenal rasa wortel lebih dini sehingga tidak asing lagi ketika diberi makanan serupa.

  1. Postnatal (Birth and Infancy) Exposure

Penelitian juga mendukung teori penerimaan rasa pada balita melalui asupan makanan ibunya saat menyusui. Jika dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, bayi yang terekspose buncis dan kacang polong melalui asi ibunya lebih mudah menerima makanan tersebut saat ia diberi MP-asi berbahan dasar sayuran serupa.

Selain itu, waktu dan jenis pemberian makanan padat/MP-asi juga memengaruhi preferensi rasa. Pengenalan makanan pahit terlebih dahulu (sayuran) dibanding makanan manis (buah-buahan) akan meningkatkan tingkat adaptasi anak terhadap beragam jenis rasa, karena rasa manis diawal akan mengacaukan penerimaan rasa pahit. Begitu pula dengan rasa asam, pengenalannya dianjurkan lebih awal bersama dengan rasa pahit, baru kemudian makanan dengan rasa manis. Pada usia 6 hingga 24 bulan, ibu dianjurkan untuk memberi beragam jenis sayuran, sehingga anak akan mudah menerima berbagai jenis makanan baru.

Teori diatas lebih mudah diterapkan pada batita ketimbang balita atau anak pra sekolah. Hal ini disebabkan karena anak usia lebih dari tiga tahun sudah mulai memilah makanan sesuai preferensinya sendiri.

Metode lain yang lebih mudah diterapkan pada anak pra sekolah adalah dengan assosiative conditioning. Sistem ini merupakan pengenalan makanan baru secara berulang yang dikondisikan dengan pengaruh lain. Misalnya, anak diberikan jus wortel yang ditambah dengan gula atau sayuran yang ditambah dengan salad dressing. Dengan adanya bahan lain sebagai penambah cita rasa, anak akan menerima sayur dan buah-buahan yang dinilai kurang enak rasanya.

  1. Reapeted Exposure

Neophobia atau menghindari makanan baru pada anak-anak, terutama balita sangatlah wajar. Respon ini merupakan sifat adaptif organisme untuk tidak mengonsumsi makanan yang baru dikenalnya karena belum mengetahui tingkat keamanannya.

Oleh karena itulah, mother modelling atau pemberian contoh makan sayur dan buah oleh orang tua/pengasuh merupakan pengenalan tahap awal bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi.

Orang tua juga harus bersabar untuk terus menerus memperkenalkan sayur dan buah, karena penelitian membuktikan bahwa penerimaan anak terhadap makanan baru yaitu lebih dari sepuluh kali pemberian. Ketika anak tetap tidak mau, orang tua harus lebih kreatif dan berkreasi dengan sayur buah tersebut.

  1. Reward

Wadhera et al juga merangkum beberapa penelitian yang menggunakan sistem pemberian hadiah (salah satunya dengan stiker) ketika anak mau mengonsumsi sayuran yang tidak ia sukai.

Hasilnya, anak pra sekolah yang diberikan sayuran tertentu berulang kali dan diberi hadiah jika ia memakannya, mengonsumsi sayuran 7-8 kali lebih sering dibandingkan dengan kontrol (anak yang tidak diberi sayuran berulang dan tanpa hadiah). Selain itu, kombinasi antara pemberian berulang, mother modelling dan sistem pemberian hadiah juga dapat meningkatkan konsumsi sayur dan buah pada anak-anak.

Reference

Wadhera et al. 2015. Teaching children to like and eat vegetables. Appetite. 93(1) pp, 75–84.

Advertisements